Gangguan pendengaran adalah salah satu faktor risiko demensia yang paling sering terjadi, terutama pada usia di atas 50 tahun.
Apa Itu Gangguan Pendengaran?
Gangguan pendengaran terjadi ketika kemampuan seseorang untuk mendengar menurun, baik sedikit maupun berat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penuaan alami, paparan suara keras, infeksi telinga, cedera, penyakit tertentu, atau faktor genetik.
Beberapa tanda umum gangguan pendengaran:
- Sering meminta orang mengulang ucapan
- Sulit mengikuti percakapan, terutama di tempat ramai
- Merasa suara terdengar seperti “mumur”
- Volume TV atau gawai lebih keras dari biasanya
- Kesulitan mendengar suara bernada tinggi, seperti suara anak-anak
Gangguan pendengaran dapat muncul perlahan, sehingga banyak orang tidak menyadarinya selama bertahun-tahun.
Gangguan Pendengaran dan Risiko Demensia
Dalam laporan Lancet Commission on Dementia Prevention dan World Alzheimer Report, gangguan pendengaran disebut sebagai faktor risiko demensia terbesar pada usia paruh baya (midlife).
Penelitian menunjukkan bahwa:
- Gangguan pendengaran sedang hingga berat meningkatkan risiko demensia 2–5 kali lipat.
- Risiko meningkat sesuai tingkat keparahan gangguan pendengaran.
- Penggunaan alat bantu dengar dapat mengurangi risiko, atau setidaknya memperlambat perkembangan demensia.
Gangguan pendengaran tidak hanya berdampak pada telinga, tetapi juga berpengaruh terhadap hubungan sosial dan stimulasi otak, dua aspek penting dalam kesehatan otak jangka panjang.
Bagaimana Gangguan Pendengaran Mempengaruhi Otak?
Ada beberapa mekanisme ilmiah mengapa gangguan pendengaran berhubungan dengan risiko demensia:
- Beban kerja otak meningkat
Saat pendengaran menurun, otak bekerja lebih keras untuk menangkap suara dan memahami percakapan. Energi otak yang seharusnya digunakan untuk memori dan berpikir jadi tersita untuk mendengar. - Penurunan stimulasi otak
Kurangnya input suara membuat bagian otak yang bertanggung jawab pada pendengaran dan bahasa menjadi kurang aktif. Studi pencitraan otak menunjukkan bahwa bagian otak mengecil lebih cepat pada orang dengan gangguan pendengaran. - Isolasi sosial
Gangguan pendengaran sering membuat orang menarik diri dari percakapan atau kegiatan sosial karena merasa sulit mengikuti pembicaraan. Kesepian dan isolasi sosial adalah faktor kuat yang meningkatkan risiko demensia. - Perubahan struktur otak
Penelitian MRI menunjukkan bahwa gangguan pendengaran berhubungan dengan pengecilan bagian otak tertentu, termasuk hippocampus—bagian yang penting dalam pembentukan memori.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Risiko Demensia?
Karena gangguan pendengaran dapat ditangani, langkah berikut dapat membantu menurunkan risiko demensia:
- Periksa pendengaran secara rutin
WHO merekomendasikan pemeriksaan pendengaran sejak usia 40 tahun, terutama bagi yang memiliki faktor risiko seperti pekerjaan bising atau riwayat keluarga. - Gunakan alat bantu dengar bila diperlukan
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat bantu dengar:- Meningkatkan kemampuan berkomunikasi
- Mengurangi isolasi sosial
- Menurunkan beban kerja otak
- Dapat menurunkan risiko demensia atau memperlambat penurunan kognitif
- Lindungi pendengaran
- Hindari paparan suara keras
- Gunakan earplug saat berada di tempat bising
- Atur volume musik dan earphone tidak terlalu tinggi
- Tetap aktif secara sosial dan mental
Meskipun ada gangguan pendengaran, tetap terlibat dalam kegiatan sosial, mengikuti komunitas, membaca, berdiskusi, atau melakukan hobi yang menstimulasi otak. - Jaga kesehatan secara keseluruhan
Gangguan pendengaran sering terkait dengan kondisi lain seperti diabetes, hipertensi, atau obesitas. Menjaga kesehatan umum juga berarti menjaga kesehatan otak.
Apakah Mengatasi Gangguan Pendengaran Mengurangi Risiko Demensia?
Beberapa meta-analisis terbaru menemukan bahwa penggunaan alat bantu dengar dapat menurunkan risiko demensia pada orang dengan gangguan pendengaran. Artinya, intervensi sejak dini dapat memberikan manfaat besar untuk kesehatan otak jangka panjang.
Namun, seperti faktor risiko lain, memperbaiki pendengaran tidak menjamin 100% mencegah demensia. Tetapi ini tetap merupakan langkah sangat penting dalam melindungi kesehatan otak.
Kesimpulan
Gangguan pendengaran adalah salah satu faktor risiko demensia paling kuat, tetapi juga paling mudah ditangani. Memeriksakan pendengaran, menggunakan alat bantu dengar jika diperlukan, dan menjaga aktivitas sosial dapat membantu mengurangi risiko demensia dan mendukung kesehatan otak hingga lanjut usia.
Referensi
- World Health Organization (WHO). World Report on Hearing (2021) & Risk Reduction of Cognitive Decline and Dementia (2023).
- Alzheimer’s Society UK. Hearing Loss and Dementia.
- Dementia Australia. Hearing Loss and Cognitive Decline.
- Alzheimer’s New Zealand. Dementia Risk Factors.
- Livingston G., et al. (2020 & 2022 updates). Lancet Commission on Dementia Prevention, Intervention, and Care.
- Lin FR., et al. (2011). Hearing loss and incident dementia. Archives of Neurology.
- Gallacher J., et al. (2012). Auditory threshold, cognitive decline, and dementia risk. Neurology.
- Deal JA., et al. (2017). Hearing impairment and dementia: prospective cohort study. Journal of the American Geriatrics Society.
- Chern A., et al. (2023). Hearing aid use and dementia risk: systematic review and meta-analysis. The Lancet Healthy Longevity.
- Yeo BS., et al. (2024). Cognitive decline and hearing loss: longitudinal analysis. Journal of Alzheimer’s Disease.
- Peterson MD., et al. (2021). Association of age-related hearing loss with structural brain changes. NeuroImage Clinical.